Rabu, 4 Januari 2006
Innalillahi Wa Inna Ilaihi Ra'jiun.
Sebuah kalimat tersebut, terluncur begitu gue mendengar kabar dari Nyokap gue kalau sohib dan teman gue dari SMU yang bernama Anggoro Sigit (Sigit) meninggal dunia. Sebelumnya memang dia udah merasakan sakit semenjak bulan Ramadhan yang lalu. Hanya saja baru hari Selasa, 27 Desember 2005 keluarganya baru memasukkannya ke RS. St. Carolus. Gue juga udah jenguk dia di RS waktu hari Kamis, 29 Desember 2005. Ketika itu kondisinya udah parah banget, karena itu dia dirawat diruang ICU (ini pertama kalinya gue masuk ruang ICU (ngeri dan jangan sampai ada lagi dech, teman gue yang dirawat diruangan ini)). Mungkin memang itu udah kehendak Alloh S.W.T, sampai akhirnya Sigit menghembuskan nafas terakhirnya diruangan itu.
Waktu mendengar kabar itu, gue cuman bisa bengong dan bingung mau izin dari kantor saat itu juga atau pas istirahat siang. Akhirnya gue ambil keputusan buat pergi ngelayat pas jam makan siang aja. Apapun alasannya, gue mesti bisa ngeliat dan mengantarkan jenazahnya di saat terakhir gue bisa ketemu dia di dunia. Sambil menunggu jam makan siang, sms demi sms gue kirim ke rekan-rekan semasa SMU dan kuliah dulu yang mengenal sohib gue yang satu ini.
Sekitar jam 11-an, setelah dapat izin dari Fany (thanks Fan), langsung aja gue cabut ke rumah buat ganti sandal dulu. Setelah itu, berdua dengan si Taufik adik gue, langsung jalan ke rumah sohib gue itu. Sampai disana, belum ada teman-teman SMU gue yang datang. Baru gue sendiri aja teman SMU-nya yang datang (sedih banget kalau gue ngingat yang satu ini). Banyak dari mereka yang ngak bisa datang karena saat itu lagi jam kerja.
Setelah mengucapkan ucapan belangsukawa sama nyokap, abang dan bokinnya, gue langsung duduk dihadapan jenazahnya dan membuka kain penutup wajahnya (Sigit udah jadi anak yatim sejak balita). Melihat kondisinya jenazahnya yang sangat kurus (karena sakit paru-paru), tak terasa air mata gue mulai mengalir. Ngak lama kemudian, gue langsung baca doa dan baca surat Yasin barengan sama yang lainnya. Diantara yang membaca surat Yasin terdapat si Ratih (pacarnya Sigit yang selalu setia menemani hingga akhir hayatnya (Semoga Alloh S.W.T selalu memberikan kesabaran dan ketabahan hati untuk cewek yang satu ini, Amin)).
Selesai membaca Yasin, gue keluar ke depan duduk-duduk bersama dengan tetangganya. Saat itu, terbayang oleh gue ketika masa-masa SMU dulu yang selalu bareng setiap harinya berangkat ke sekolah bersama anak-anak 30 basis JP-04 (Salemba-Rawasari), meskipun rumahnya agak jauh dari rumah gue. Setelah lulus sekolah dari SMU-pun, gue tetap berteman dengan dia. Sayangnya kita berbeda Universitas, gue di Gunadarma Depok, dia di YAI Salemba. Selama masa kuliah, Sigit maupun gue sering main PS One sekedar buat main Winning Eleven. Nyokap dan bokap gue udah menganggap dia sebagai saudara sendiri.
Cuman sayangnya, kegemarannya terhadap segala hal yang berbau games, menjadi bumerang sendiri buatnya. Kalau gue setelah kuliah dan menjadi Asisten Lab, hampir ngak sempet lagi main games, hal ini berkebalikan dengan dia.
Setelah era Games Online Internet muncul, temen gue yang satu ini menjadi salah satu maniak games online berat. Dia sanggup begadang semalaman penuh di Warnet deket rumah gue sampai kelupaan makan. Buruknya lagi, teman gue ini seorang perokok berat. Sambil bermain games, tak terasa sebungkus rokok dapat dengan cepat terhisap habis menemaninya bermain. Karena faktor inilah, lambat laun kondisi kesehatannya menurun. Sampai akhirnya dia sakit dan akhirnya wafat di Rumah Sakit karena penyakit paru-paru yang menyerangnya.
Bada Asar, setelah dimandikan dan disholatkan, jenazah teman gue dibawa ke Taman Kusir untuk dimakamkan diatas makam bokapnya yang udah lebih 20 tahun lalu meninggal dunia (kata nyokapnya sich, biar Sigit bisa deket sama bokapnya, cause sejak kecil ngak pernah ketemu bokap). Dan ketika jenazahnya di masukkan ke liang kubur, gue ngak bisa menahan perasaan sedih ini.
Dalam hati gue cuman bisa berdoa, "Ya Alloh maafkanlah segala dosa-dosa teman gue ini. Lipat gandakanlah segala amal baik yang telah diperbuatnya semasa di dunia. Permudahlah jalannya untuk mencapai surga-Mu yang sangat indah. Dan jauhkanlah dirinya dari siksa kubur yang sangat berat. Amin"
Selamat Jalan, git. Insya Alloh gue akan selalu kirim doa, buat ketenangan loe di alam sana.
0 Responses to “Good bye, my friend”
Leave a Reply